Dalam hidup ini tidak ada yang salah dan yang benar
hidup tidak dapat disamakan dengan rumus penjumlahan yang:
1+1=2
kalau jawabannya 3, maka sudah dipastikan kita pasti salah, harus 2 jawabannya.
Hidup ini tidak ada patokan harus 'begitu' jawabannya, harus 'begitu' jalannya
Saya ingin mengutip sedikit artikel 'Revolusi kecantikan' karya Andre Syahreza dalam buku teranyarnya The innocent rebel, ia mengatakan bahwa kecantikan adalah sebuah konsep. Diciptakan oleh komunitas tertentu yang merasa punya kuasa untuk menentukan konsep tentang kecantikan. Mereka adalah para industrialis produk kecantikan yang pada akhirnya memiliki kepentingan meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.
Dengan begitu, hal yang ingin saya kaitkan di sini adalah bahwa kehidupan itu adalah sebuah konsep juga. Konsep tersebut diciptakan oleh masyarakat luas baik yang masi tradisional maupun yang modern.
konsep kehidupan seperti menikah, mempunyai 2 anak, menjadi wanita karir, dan sebagainya. Seperti kita sekolah sampai kuliah, lantas abis lulus lalu mencari pekerjaan dan bekerja, meniti karir. Setelah itu menikah, setelah menikah tetap bekerja, dan mempunyai anak, setelah mempunyai anak tetap bekerja juga untuk menghidupi anak. Saya melihat kehidupan seperti itu kini sudah banyak menjamur luas di era kehidupan zaman kini dan dianggap 'ideal' dan 'benar'.
Bila seseorang memilih tidak menikah dan tidak mau mempunyai anak, maka ia akan dianggap 'tidak ideal' dan 'salah'.
Bila seseorang memilih tidak mau menjadi wanita karir, maka dia juga dianggap 'salah'. Mengapa salah? Katanya sebagai wanita tidak boleh benar-benar menggantungkan hidup 100% ama suami. Sebagai wanita harus ada mata pencaharian sendiri paling tidak penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sendiri, sebagai wanita harus bisa 'menyaingi' suami. Dalam arti, harus 'sepadan' dengan suami. Jadi yang saya tangkap, apabila tingkat suami itu dikategorikan A, maka kita tidak boleh dalam kategori C. Paling tidak, kita harus dapat mencapai kategori B+. Kenapa? Supaya suami tidak memandang rendah kita dan dapat menghargai dan menghormati kita.
Ada yang bilang juga kalau suami itu memandang rendah, tidak menghargai kita dan tidak menghormati kita dampaknya akan sangat jelek, bisa mulai memarah-marahi istri, menjadikan istri sebagai pelampiasan emosinya bahkan yang lebih parah, menjadikan istri sebagai bahan yang empuk atas tindakan kekerasannya.
Kembali lagi ke perkataan bahwa apabila seseorang tidak menikah dan tidak mempunyai anak maka dianggap 'salah'. What's wrong? Di luar dari diskusi dari segi keagamaan, saya rasa hal itu sangat layak sekali dan tidak ada anehnya.
Menurut saya secara pribadi, jangan menjadi korban konsep.
karna yang rugi itu diri kita sendiri bukan diri orang lain.
kita yang mengalami perih-perihnya dan tentu aja bukan orang lain!
apa yang dapat mereka katakan?
OOOooo.. kasiann yaa..
Seperti halnya begini, karena termakan konsep..
Hei, udah 25 nih... Pacarnya dikenalin donk jangan diumpetin..
What ?!?!?!?!
atau sama halnya dengan
Wah tahon depan uda 31 nih.. kapan sih undangan marriednya dikirim?
urrgghhhhh ?!?!?!?!
yang mau saya omongin di sini juga bukan dari segi tentang pernikahan dan punya anak saja.
sama halnya dengan "konsep-konsep kehidupan" lain
seperti bekerja. Karena lulusan luar negeri harus bekerja di perusahaan luar negeri juga. karena lulusnya di bidang itu maka harus bekerja di bidang itu juga. What gitu lho?!?!?!
Menurut saya, pekerjaan itu ya lakuin aja sedapatnya dan semampunya kita
ga usa terlalu memaksakan diri sendiri dan ga usa put ourself higher..
jangan pernah lewatkan kesempatan apapun, karena setiap kesempatan itu berkat dariNYA.
meskipun yang saya maksud "kesempatan" di sini bukan berarti mendapat sesuatu yang besar, seperti kerja di perusahaan besar, menjadi pacar dari pengusaha kaya.. Maksud saya, bahwa hal-hal kecil itu dapat menjadi besar pada saat dan waktu yang tepat pada nantinya.
Kesempatan itu dimulai dari hal-hal kecil, dari hal-hal yang kelihatan mungkin 'tidak berguna', seperti kita akan melihatnya sebagai 'the ugly duckling'.. padahal ugly duckling itu pada akhirnya bisa menjadi swan yang cantik.
Segala sesuatu itu juga ga bisa dinilai dengan sekedar 'pandangan mata' saja. Ini mengingatkan saya pada gunung es yang dapat menenggelamkan kapal titanic, betapa kecil penampakannya dan dapat dilibas oleh kapal dalam pemikiran kita, tapi nyatanya dari sesuatu yang "kecil" itu dapat menjadi "besar" dan dapat melakukan hal-hal yang di luar pemikiran kita. Maka, jangan pernah memandang orang lain itu rendah seburuk apapun penampakannya. Saya percaya tidak ada orang yang 'rendah', sekalipun dia itu hanya seorang tukang sampah, cleaning service, pembantu rumah tangga, atau bahkan seorang pengangguran sekalipun.
Saya tidak membuat konsep untuk diri saya sendiri, seperti saya harus mendapat suami yang begini begitu.. harus dapat anak yang begini begitu..
Dalam hidup ini saya mempunyai 2 tujuan hidup, yakni bisa hidup sederhana dan bahagia.
Hidup sederhana di sini bukan hanya secara jasmani, tapi juga secara pemikiran , yakni mempunyai pemikiran yang simple. mama ku pernah mengatakan bahwa orang yang simple pemikirannya lebih mudah untuk bahagia. Di luar dari segala ucapannya aku memang ingin menjadi orang yang lebih simple, tidak complicated. Otherwise, memang masi belom bisa saya lakukan, makanya saya meletakkan itu sebagai tujuan hidup saya.
Tiap orang boleh mempunyai tujuan hidup yang sesuai kehendaknya. Hanya akan lebih baik jangan menyamakan tujuan hidup kita dengan tujuan hidup orang lain, dalam arti di sini yakni membandingkan diri kita dengan orang lain. Jadi kalau orang lain itu 'begini' hidupnya, maka kita akan membandingkan hidup kita dengan hidupnya, merasa bahwa kita harus mempunyai yang 'lebih tinggi' dari diri orang lain tersebut, maka kita akan merasa puas bahkan 'menang'. Apakah tujuan hidup itu berarti kemenangan? Kemenangan yang bagaimana? Sebuah kemenangan itu ga akan ada abis-abisnya sama halnya dengan menjalani peperangan untuk kemenangan yang juga tak akan ada abis-abisnya.
Akan lebih baik juga tujuan hidup itu tidak diletakkan atas dasar konsep kehidupan, melainkan atas dasar keinginan pribadi atas dasar keputusan pribadi yang wajib dipertanggung jawabkan.
-aLice
(dari blog multiply tertulis tanggal 13 January 2007)
Sunday, March 11, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment